Sebagai manusia normal (?!), rasa-rasa dongkol dalam hati memang selalu ada dan mengada..
Kadang, terdapat kesenjangan antara Harapan dan Kecepatan. Maksudnya?? Apa yang kita harapkan tidak lekas terkabul secepat yang kita inginkan. Inilah yang aku alami sekarang. Bagaimana tidak?? Pengen banget download film lama, Warriors of Heaven and Earth, yang dibintangi oleh Vicky Zhao Wei.. namun apalah daya?!Torent begitu kebluk (lambat) tak kenal perasaan dan kesabaran!! Celakanya, tampilan di Indowebster juga berubah! Praktis,pupus sudah harapan..
Tampak sudah, antara Harapan dan Kecepatan --kadang-- ada dinding-dinding yang memisahkannya.
Yang pasti, ntar sore mudik lebaran...
wa-Allahu a'lam
Antara Harapan dan Kecepatan
Delete Abadi
Pernahkah terfikir di benak kalian bahwa file-file penting kita bisa dibajak orang lain sebab keteledoran kita?
Maksudnya begini, kadang kita sudah merasa aman telah "membumi-hanguskan" file-file privat kita. Lalu, tanpa ragu dan kikuk, flashdisk atau harddisk (plus Laptop or PC-nya) --misalnya-- kita jual, dengan asumsi di dalamnya sudah tak ada lagi file-file berharga kita.
Nah, di situlah sumber masalahnya!
Ada banyak software yang berfungsi untuk "membangkitkan kembali" file-file yang telah terkubur dan lenyap. Misalnya, ada "Get Data Back", "UnDelete Plus", atau --meski tidak begitu hebat-- dalam paket TuneUp Utilities 2009 terdapat "TuneUp Undelete", dan lain sebagainya.
Software-software semacam itu memang sangat positif, di satu sisi, namun di sisi lain, ia dapat dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan tak bertanggung jawab.
Untuk kasus di atas, tentu saja privasi kita terusik. Bagaimana tidak, lha wong database or file-file privat kita bisa dinikmatin orang lain?!
Solusinya?? sebagai upaya preventif, teman-teman bisa memanfaatkan aplikasi Wiping untuk mendelete secara permanen. Saya menyebutnya, "Delete Abadi". Tentu saja, file yang didelete oleh Wiping tak bisa di-restore atau "dibangkitkan kembali". So, pikir-pikir dulu yah kalau mau delete...
Caranya?? Kalau softwarenya sudah diinstall, tinggal Klik Kanan file yang mau didelete, lalu pilih "Delete with wiping". Insya Allah, file itu tak kan bisa di-restore.
Semoga bermanfaat.
Kalau berminat, donwload softwarenya di sini.
wa-Allahu a'lam.
DR.Khalid al-Walid dan Pluralisme; Kritik atas Kritik
Pelatihan Kader Muballigh Ahlul Bait Nasional Angkatan 1 yang diselenggarakan oleh Yayasan Dana Mustadhafin bekerja sama dengan ICC dan STAI MI, di Aula STAI MI beberapa bulan yang lalu itu ditutup pada Sabtu, 28 Maret 2009.
Tema yang diusung pada penghujung pelatihan itu, bagi saya, cukup menarik, yaitu soal Pluralisme Agama dan Hermeneutika. Tema ini dibawakan oleh DR. Khalid al-Walid. Namun, karena ada “perampingan” waktu, mau tidak mau pemateri harus mempersingkat presentasinya. Karena tema ini dirasa cukup urgen, pemateri memilih menyampaikan satu tema saja namun tuntas, dari pada dua tema tapi tanggung. DR. Khalid memilih tema Pluralisme Agama. Kebetulan yang ditunjuk sebagai moderator dan notulis pada waktu itu adalah saya.
Sebagai notulis, biasanya—seperti pada hari-hari sebelumnya—saya diminta untuk membuat resume secukupnya dari uraian para pemateri. Namun, pada kesempatan terakhir itu saya tidak menjalankan tugas saya dengan baik. Entah, tema itu begitu menarik bagi saya. Sehingga, saya terpaku mencermati uraian dan argumen-argumen DR. Khalid dalam menolak prinsip Pluralisme Agama. Saya mencoba mendialogkan apa yang ada di dalam benak saya, dengan apa yang saya dengar, lihat, dan alami saat itu. Tentu saja dialog-individual saya bersifat pasif, sebab, sebagai moderator dan notulis, saya tidak bisa nimbrung diskusi tak ubahnya peserta pelatihan.
Resume yang saya buat untuk uraian DR. Khalid cukup singkat. Anehnya, ternyata saya lebih disibukkan untuk menuliskan keberatan-keberatan dan kritik saya atas argumentasi dan sanggahan DR. Khalid terhadap gagasan Pluralisme. Dari situlah lahir Kritik atas Kritik secara reflektif.
Saya akan ikuti definisi Pluralisme yang dirumuskan oleh DR. Khalid. Sebab, lucu jika saya mengkritik argumen-argumen penolakan beliau, namun pada saat yang sama, konsep Pluralisme yang kita pahami berbeda. Saya menduga, definisi yang beliau buat adalah working definition.
“Kebenaran yang plural dan tidak mutlak satu di antara keyakinan agama-agama. Agama-agama adalah ragam jalan menuju satu tujuan”.
Tulisan di atas mengawali presentasi DR. Khalid.
Menurut DR. Khalid al-Walid, ada tiga pola pandang keyakinan beragama;
Eksklusivisme; memandang bahwa hanya agama tertentu saja yang akan selamat. Seluruh pemeluk agama, selain agama tersebut, akan mendapat azab.
Inklusivisme; seluruh keyakinan dan agama adalah benar, karena hal tersebut tidak lebih merupakan bentuk Tajalli Tuhan yang berbeda-beda. Selama pemeluk tersebut berjalan menuju Tuhan, maka dirinya adalah ahli surga.
Pluralisme; seluruh bentuk agama dan keyakinan hanyalah merupakan bentuk penafsiran manusia terhadap kebenaran yang mutlak. Sehingga, seluruhnya berjalan pada arah yang sama dan dapat menggapai kebenaran pada tingkatnya sendiri-sendiri.
Kata DR. Khalid, “Kebenaran Mutlak adalah Tuhan itu sendiri, tetapi kebenaran pada tingkat manusia bersifat relatif dan tidak mutlak. Prinsip dasar Pluralisme adalah, kebenaran Tuhan, ketika sudah turun kepada manusia, menjadi plural. Tidak mutlak”.
Islam dan Pluralisme
Menolak : Islam merupakan agama terakhir dan paling sempurna, mencari agama selain Islam adalah kebatilan dan tidak akan diterima Allah SWT.
Menerima : Agama-agama pada intinya mengajarkan kebaikan. Banyak elemen kesamaan antara agama yang satu dengan agama yang lain, serta Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya. Dia akan berlaku adil karenan siapapun yang berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala dan siapapun berbuat kejahatan akan mendapatkan azab.
Argumentasi pluralis Islam;
1. Rahmat Ilahi : Bagaimana mungkin rahmat Ilahi hanya meliputi segolongan kecil manusia semata (hanya Syi’ah) yang selamat, sementara semua yang lain dalam keadaan celaka.
2. “Tidak seorang pun dari Ahli Kitab kecuali mereka akan beriman sebelum kematiannya dan pada hari kiamat (Isa a.s) akan menjadi saksi bagi mereka”. (QS 4 : 159).
3. “Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang yang mendapat petunjuk, kaum Nashrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal sholeh, maka bagi mereka akan mendapatkan ganjaran dari sisi Tuhan mereka dan tidak sedikitpun ada ketakutan dan kekhawatiran pada mereka” (QS 2 : 62).
Bantahan terhadap argumentasi kaum pluralis Islam;
1. Hidayah Ilahi terbagi ke dalam 2 bagian : Takwini dan Tasyri’i. Hidayah Ilahi yg bersifat Takwini berlaku untuk semua makhluk tanpa peduli agama dan perilaku yang muncul dari mereka. Sedangkan Hidayah dalam konteks Tasyri’i merupakan bentuk yang diturunkan Allah SWT melalui nabi-Nya dalam sistem jalan kehidupan untuk mencapai kesempurnaan. Seorang manusia hanya dapat mengikuti Hidayah Tasyri’i ini sekiranya dia mengikuti sistem yang telah ditetapkan Allah SWT melalui nabi-Nya.
2. Ayat tersebut berbicara tentang keadaan kaum Nashrani di akhir zaman ketika Nabi Isa a.s. dimunculkan kembali oleh Allah SWT.
3. Iman kepada Allah memiliki beberapa keharusan a.l : A). Beriman kepada para utusan Allah SWT dan apa dibawanya, B). Keimanan tidak hanya bernama Islam/muslim akan tetapi hakikat keimanan kepada Allah SWT dan Hari Akhir, C). Banyak ayat al-Qur’an lainnya yang ditujukan bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak beriman kepada Rasulullah maka mereka masuk dalam kategori orang yang akan diazab Allah SWT. (QS 19 : 88-99).
Selanjutnya, masih dalam rangka kritik terhadap prinsip Pluralisme, DR. Khalid mengakhiri argumentasinya dengan mengutip uraian pemikir Syiah par excellence, Murtadha Muthahhari, sebagai berikut;
“Untuk diterimanya amal baik, seseorang harus memenuhi beragam syarat, antara lain : a). Beriman kepada Allah dan Hari Akhir, b). Amal tersebut dipersembahkan hanya untuk Allah SWT (Ikhlas), c). Tunduk kepada kebenaran dalam ketundukan Qalbiyyah. (QS 26 : 84)”.
Pendapat Muthahhari tersebut, tentu saja, beliau kutip dari Keadilan Ilahi, yang kini diterbitkan lagi oleh MIZAN.
Kritik
Itulah uraian dan bantahan yang dibuat oleh DR. Khalid dalam slide presentasinya. Saya sadar, boleh jadi, beliau masih punya banyak argumen untuk menolak Pluralisme. Namun, ketika suatu wacana telah dilepas ke publik, maka ia menjadi konsumsi publik yang sah untuk disetujui atau tidak. Dalam konteks ini, kritik yang saya ajukan merupakan refleksi balik dari argumen-argumen di atas, bukan argumen-argumen lain yang “mungkin” ada.
Dalam kritik berikut, saya tidak membatasi diri untuk mengkritik dalil-dalil yang digunakan untuk menolak Pluralisme, namun—bahkan—dalil afirmasinya.
Secara general, ada empat kritik yang saya ajukan sebagai refleksi pemikiran saya atas elaborasi dan dalil-dalil negatif ataupun afirmatif di atas, yang bisa disederhanakan sebagai berikut;
Pertama, Logika Daur (siklus); membangun argumen pluralisme dari Islam. Ini jelas tak masuk akal. Ide Pluralisme—bahkan dalam definisi yang ditawarkan oleh DR. Khalid—melampaui dan menembus sekat-sekat yang memisahkan agama-agama. Islam adalah salah satu dari sekian agama dan kepercayaan yang ada, terlepas bahwa kita sebagai muslim—sekali lagi, “sebagai muslim”—meyakini Islam bersifat transenden. Dalam diskursus Pluralisme, Islam adalah “agama”. Pluralisme dibangun, salah satunya, untuk mengafirmasi keselamatan bagi pemeluk agama lain, dan menghilangkan klaim kebenaran eksklusif agama tertentu. Oleh karena itu, argumen Pluralisme seharusnya digali dan dibangun dari prinsip-prinsip logika yang disepakati bersama, bukan diambil dari dalil-dalil agama tertentu. Jika ditanya, “Prinsip-prinsip logika yang mana?”, “Disepakati oleh siapa?”....dst, itu adalah problem lain yang tidak bisa didiskusikan di sini.
Dengan demikian, tentu saja, menyajikan dalil-dalil afirmatif atas pluralisme sebagaimana di atas, menjadi sangat kering, rapuh, dan mudah dikritik.
Kedua, Melihat benar dan tidaknya suatu interpretasi berdasarkan logika matematis. Sehingga, validitas kebenaran interpretasi—dalam kerangka pemikiran ini—sebanding dan sama dengan prinsip 1+1 = 2. Itu ukuran primernya. Dengan kata lain, ketika dikatakan “Islam itu benar”, maka “bukan Islam adalah salah”.
DR. Khalid memang tidak jelas sikapnya dalam masalah ini. Namun, penolakannya terhadap poin ini dengan menggunakan sisi kontradiktifnya—paling tidak—mengindikasikan apa yang saya tulis ini. Analogi demikian, bagi saya—jelas—tak comparable. Keduanya memiliki preseden dan anteseden yang berbeda; dalam hal kualitas dan karakter premis.
Seharusnya dijelaskan dulu secara memadai, apakah perbedaan agama-agama itu sifatnya tanaqudhy (kontradiksi absolut), atau tadhadhy (pertentangan)?! Pun saya akui bahwa beliau sempat menyinggung perbedaan antara tanaqudh dengan tadhadh ini, namun beliau tidak melangkah lebih jauh. Hanya sampai situ.
Ketiga, Menjadikan ‘keimanan’ bahwa Nabi membawa jalan pada kesempurnaan sebagai tolak ukur pembanding. Nggak fair dong!
Dalam konteks Pluralisme ini, “kebenaran” atau “ketidak-benaran” agama-agama lain tidak bisa dinilai dari perspektif agama yang kita anut, sebaliknya, agama yang kita anut tidak bisa diukur dan dinilai dari agama lain. Menilai agama-agama yang ada, dalam konteks ini—sekali lagi, “dalam konteks ini”—haruslah dengan “memandang” agama-agama itu dari luar, bukan dari dalam. Memang, harus diakui cara demikian dapat mengabaikan banyak faktor penting, seperti “pengalaman beragama” yang sifatnya sangat subjektif-individual dan kompleks. Hanya saja, harus saya tegaskan untuk yang ketiga kalinya, cara ini digunakan untuk menilai agama-agama secara bijak “dalam konteks Pluralisme”. “Dalam konteks Pluralisme”, sebagai kensekwensi logis dari premis-premis primordial sebelumnya.
Keempat, Mengabaikan perdebatan soal makna dan fungsi “agama”. Masalah ini seharusnya menjadi titik awal bagi seluruh perdebatan di atas.
“apa itu agama?”, “mengapa agama?”..
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas seharusnya dituntaskan terlebih dahulu. Apalagi pertanyaan semacam itu termasuk di antara bagian terpenting dalam isu-isu yang diusung dan diperdebatakan di dalam Kalam Jadid (teologi modern). Selama poin ini diabaikan, dalam hemat saya, perdebatan di atas terasa ganjil dan dan jelas tidak memuaskan.
Itulah kritik singkat saya atas kritik DR. Khalid al-Walid (Naqd al-Naqd). Saya akui, kritik yang saya bangun ini bernada dialektikal. Sebagaimana ungkap M. Baqir al-Shadr, dalil-dalil dialektis tidak dapat memberikan keyakinan dan pengetahuan yang memadai. Oleh sebab itu, kritik-kritik yang saya ajukan ini pada dasarnya hanya sebuah upaya “mempertanyakan” keabsahan dalil-dalil yang digunakan oleh DR. Khalid.
Betapa pun saya “belum” bisa menyetujui prinsip Pluralisme sebagaimana dikonsepsikan oleh sebagian kalangan, saya percaya ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menuju dialog yang lebih sehat dan cerdas.
Wa-Allahu a’lam
Nggak bisa install win. XP SP2 di HP 520??
Bagi teman-teman yang gak tau banyak soal instalasi Laptop ataupun PC, boleh jadi satu di antara kalian ada yang pernah mengalami nasib seperti yang pernah saya alami.
Waktu itu, karena ulah virus-virus genit, terpaksa Laptop saya harus reinstall. Saya termasuk pengguna XP SP2, bukan SP3. Sebab, dengar-dengar, SP3 agak problematik.
Saat instalasi XP SP2, ada suatu “kejanggalan”. Yaitu, saat proses copy data udah selesai, Hardisk gak terdeteksi. Otomatis, proses instalasi tidak bisa dirampungkan. Dengan kata lain, gak bisa diinstall.
Aneh bukan?? Kasus itu ditandai dengan munculnya tulisan semacam ini;
Anda mungkin akan pusing dibuatnya, seperti saya kala itu.
Dulu, saya sudah coba hubungi banyak teman. Jawaban mereka juga variatif. Ada yang bilang, mungkin Hardisknya rusak, ada juga yang menuduh BIOS-nya teler.
Saya yang sudah kualahan ngadepin kasus itu, gak mau ambil pusing (sebetulnya sih udah pusing!). Saya meluncur nenteng Laptop saya ke HP Service Center di Mangga Dua, Jakarta.
Seusai saya ceritakan kasusnya, kata operator, mungkin Hardisknya lemah. Saya bilang gak ada masalah dengan Hardisk. Udah saya diagnosis.Titik akhir dari dialog itu, operator menyarankan untuk reinstall. Mau tidak mau harus saya iya-kan.
Yang ganjil bagi saya, mengapa pada form yang saya isi, kasus yang tertulis di situ adalah “Install Ulang”. Bukan yang lain.
2 jam setelah itu, semua beres. Saya tanya, kenapa waktu saya install sendiri tidak bisa? Operator gak mau kasih jawaban.
Seminggu setelah itu, tidak sengaja saya menekan Setting Defaults. Entah, tiba-tiba laptop saya gak bisa booting. Mbulet pokoknya. Karena tak tau banyak, saya berinisiatif untuk install ulang.
Saya kaget luar biasa. Kasus yang sama terulang kembali. Hardisk kagak kebaca!
Sebetulnya, saya punya rencana untuk kembali ke Service Center. Tetapi, sebelum rencana itu saya luluskan, saya ada keperluan untuk kirim mail ke salah satu teman yang sedang studi di Malang. Saat itu saya coba tulis di Google, “problem booting”. Cuman iseng aja. Gak taunya, saya dapat jawaban dari problem yang saya hadapin waktu itu. Thank’s Boy!
Ternyata mudah kawan!
Kalau di antara kalian ada yang mengalami nasib yang sama, ikuti langkah-langkah berikut:
Pada saat booting pertama di Laptop HP 520 tekan tombol F10, masuk ke settingan BIOS di TAB System Configuration -> SATA Native Mode -> Disabled.
Trus simpan di menu File -> Save Changes and Exit, lalu tekan F10 untuk yes.
Beres sudah. Mudah bukan?! Setelah itu proses instalasi akan berjalan normal.
Mengapa Hardisk bisa gak kebaca? Ternyata win. XP SP2 tidak support SATA. Jadi, harus diubah dulu settingan Hardisk, dari SATA RAID ke IDE, dengan langkah-langkah seperti di atas.
Ternyata, batas antara “tau” dengan “tidak tau” sangat tipis bukan??.
Wa-Allahu a’lam.
Supir Angkot
Siang itu, di tengah-tengah terik matahari yang begitu menyengat, aku duduk terdiam di kursi angkot (Angkutan Umum) bagian depan. Di sebelah kananku tempat Pak Supir.
Mulanya, aku mengira ia tak beda dengan kebanyakan supir lainnya. Apalagi, kesan-kesan awal membenarkan hal itu. Ia sering emosi ketika pengguna jalan yang lain mendahuluinya, atau saat pengendara motor pencet-pencet klakson secara tak etis dari belakang. Aku sadar, Pak Supir sangat beralasan untuk emosi. Penampilan dan style-nya juga tak beda dari kebanyakan supir lain. Hanya saja, itu semua adalah tampilan luar.
Angkot berjalan normal. Cuaca yang panas dan gerah masih seperti semula. Tiba-tiba, tak terasa angkot 102 yang kita tunggangi sudah sampai Cinere. Pada satu titik kawasan sebelum Mal Cinere, ada area proyek pembangunan. Aku hanya melihat-lihat. Usai itu, aku mencoba ramah dan dialog dengan Pak Supir.
“Ini (proyek pembangunan) mau dibikin apa, Bang??”
“Carrefour, Mas...”
Tak lama berselang, Pak Supir melanjutkan percakapannya. Kebetulan juga, tepat di belakang persis Pak Supir ada seorang Ibu yang juga vokal dan suka nyambung obrolan. Kata Pak Supir, tak lama lagi jalan dari Cinere sampai Parung Bingung akan dilebarkan. Kalau gak salah, kanan dan kiri jalan akan ditambah 8 m. Ia juga bilang bahwa dari Depok sampai Lebak Bulus—lewat jalur Kebayoran—akan dibuat tol, sebagaimana dari Depok sampai Citayam akan dibikin tol juga. Anehnya, saat pengukuran oleh petugas sudah dijalankan beberapa bulan yang lalu, kini patokan-patokan itu dicabutin lagi. Tak tau, apakah pelebaran jalan urung dilakukan, atau entah apa.
Dalam taksiran Pak Supir, pelebaran jalan dari Cinere ke Parung Bingung—jika direalisasikan—paling cepat memakan waktu 8 bulan. Ia menggunakan analaogi dalam klaim itu. Katanya juga, kawasan itu nanti akan dijadikan sarang perkantoran, mengingat letaknya yang strategis.
Sampai di sini, Pak Supir baru mencermati keadaan realitas sekitar yang menghimpitnya. Selanjutnya, ia melakukan komparasi dengan keadaan zaman dulu, masih dalam lingkup teritorial yang sama, yakni Indonesia.
Kata dia, di zaman Soekarno dulu, pembangunan merata, walau harus diakui tingkat kemajuan yang dicapainya tidak secemerlang era Soeharto dan sekarang. Itu lebih baik dari pada sentralisasi seperti sekarang. “Pejabat-pejabat sekarang”, lanjutnya, “pada berebut kedudukan, popularitas, dan harta”. Jadi, wajar jika kesejahteraan rakyat tak begitu dipedulikan. Rakyat sengsara.
Kondisi demikian, menyeret sebagian rakyat jelata berlaku curang dalam transaksi jual-beli. Misalnya, di daerah Pak Supir sendiri, Parung Bingung, rata-rata minyak tanah dibanderol dengan harga 9 ribu/lt. Hanya saja, ada keganjilan tersendiri. Menurutnya, minyak tanah di warung-warung itu, kebanyakan berwarna agak ungu, dan berbau tak ubahnya solar. Jika benar bahwa itu adalah solar, atau paling tidak, dicampur dengan solar, maka keuntungan yang mereka dapat adalah dua kali lipat. Sebab, harga solar 4 ribu. Itu adalah contoh kecurangan dari kalangan bawah. Rasanya, genap sudah permainan curang dari elit atas sampai kalangan bawah di Negeri ini. Tiba-tiba, saya teringat sabda Rasul, “man gasysyana fa laisa minna”, tukang tipu itu bukan bagian dari Kami!
Pak Supir masih belum berhenti berkisah. Kata dia, bahkan habib-habib yang melayani pengobatan masyarakat, yang mana mereka adalah sosok panutan masyarakat awam—sudah banyak di antara mereka yang tak punya harga diri. Untuk kasus pengobatan, ada di antara mereka yang pasang harga begitu tinggi, sehingg rakyat miskin tak bisa nyuwun pertolongan kepada mereka. Gilanya lagi, ada pasien yang sudah menikah bertahun-tahun dan belum punya anak, lalu mencoba “konsultasi” ke si Habib, eh malah istri si pasien dicabuli. Gila! “Iman-Islam mereka hanya dibuat kedok, Mas!”, kata Pak Supir kepada saya menilai para habib itu. Aku tak tau, valid atau tidak informasi yang ia sampaikan itu. Yang pasti, itu menunjukkan keprihatinan yang mendalam dari seorang supir atas apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Cuaca tak panas lagi. Gelap. Aneh, tiba-tiba hujan lebat. Tapi itu lebih baik dari pada cuaca panas yang tak bosan-bosannya memeras keringatku.
Aku pikir Pak Supir sudah kehabisan wacana. Ternyata tidak. Ia menerobos sekat-sekat yang memisahkan antar negara di kawasan Asia Tenggara. Ia mencoba melakukan komparasi keadaan ekonomi-sosial beberapa negara di Asia Tenggara dengan Indonesia.
Kata dia, di Malaysia dan Singapura tak ada angkot semacam ini. Tentu yang ia maskud adalah angkot 102 yang ia tarik (kemudikan). Ia menuturkan kesejehteraan sosial di dua negara teresebut dengan apik, padahal dulu “Malaysia itu lebih miskin dari kita”, ujarnya. Walau dengan jujur ia akui, bahwa warga Malaysia kebanyakan disiplin.
Aku sendiri banyak lupa poin apa saja yang singgung dari dua negara tersebut. Aku mulai berfikir bahwa Pak Supir ini dulunya adalah mantan TKI.
Belum selesai aku melayang-layang dalam fikiranku, Pak Supir tiba-tiba berbicara seputar keadaan ekonomi-sosial di Philipina.
Ia bertutur, di Philipina keadaan perdesaannya tak jauh beda dengan kita. Bahkan, malah ada yang lebih miskin. Kalau di Philipina, angkot-angkotnya tak beda dengan kita di sini, bahkan lebih jelek. Kebanyakannya adalah mobil 2 tak, atau angkutan air [perahu kecil].
Aku mulai kagum dengan uraian Pak Supir. Belum selesai aku terpesona, “Hanya saja Mas, kalau di masyarakat di Philipina—bedanya dengan kita—masih banyak yang menganut animisme dan dinamisme”, ujarnya. Aku kaget, dari mana Pak Supir tau sampai titik itu? Belum selesai aku berfikir, ia melanjutkan, “Kalau di Kita, ya seperti di Nias, atau yang deket sini, di Ujung Kulon”. Aku terperanjat, bagaimana Pak Supir ingat betul beberapa titik geografis di Indonesia yang penduduknya masih memeluk animisme? Itu ada di pelajaran SLTP. Bahkan, “Nias” adalah nama daerah yang telah lama lenyap dari memoriku. Aku kembali ingat nama itu lewat uraian Pak Supir tadi.
Pak Supir masih terus berkisah. Tapi sayang, aku sudah sampai tujuan. Mau tak mau, aku harus meninggalkan Pak Supir itu dan membiarkannya bercerita kepada Ibu-Ibu yang duduk persis di belakangnya.
Yang patut disesalkan, aku lupa beberapa nama daerah yang ia singgung dalam perbincangan itu, baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga, apologized, aku tidak dapat menarasikan pengetahuan Pak Supir tadi!
Siang itu, aku merasa begitu bahagia! Tak dapat aku deskripsikan rasa yang menyelimuti hatiku saat itu. Aku bahagia karena bertemu dengan Pak Supir yang beda dari yang lain. Supir yang menjalani profesinya sebagai supir angkot, namun tetap memiliki kepedulian dan pengetahuan yang cukup.
Betapa pun tidak seluruh yang ia bicarakan dapat aku setujui, aku tetap bahagia mendapat satu pelajaran menarik dari seorang supir angkot. Semoga ia mendapatkan jalannya.
Terima kasih Tuhan!
Wa-Allahu a’lam.
[sabtu, 30 Mei 09]
Dua Karakter Tak Baik
Hampir-hampir tak ada perdebatan yang berarti di antara para pakar, bahwa yang disebut karakter adalah suatu sifat (malakah) yang terpatri kuat dalam jiwa seseorang, dan dapat melahirkan suatu tindak perbuatan ataupun laku, tanpa didahului oleh suatu rencana maupun pikir. Seolah, karakter dapat melahirkan suatu laku secara otomatis. Tanpa kontrol. Kira-kira begitulah al-Ghazali mendifinisikan akhlaq (ethics); juga al-Jabiri dalam Naqd al-Aql al-Araby seri 4-nya.
Biasanya, mereka membuat gradasi tiga level untuk “sifat”. Kata sifat (shifah) menunjukkan level terendah, diikuti dengan hal, dan dipungkasi dengan malakah. Malakah (habitus) inilah yang selanjutnya menjadi barometer dan tolak ukur primer buat karakter.
Manusia, yang memang unik dan misterius itu, memiliki banyak karakter. Bahkan, kadang paradoks. Lepas dari itu, bagi saya, karakter—baik yang beratributkan “baik” atau “buruk”—kadang menimbulkan keanehan tersendiri. Pada satu titik, kadang membuat saya kesal.
.....
Tak Ramah
Saya tadi berkunjung ke rumah Haidar Bagir, seorang Intelektual Muslim yang kebetulan menjadi pembimbing 1 skripsi saya, di Cinere. Tak ada kepentingan lain selain hanya untuk mengambil tanda tangan beliau untuk revisi skripsi saya.
Saya tahu dan sadar bahwa Sabtu dan Minggu adalah dua hari yang secara khusus dialokasikan Pak Haidar untuk keluarganya. Maka wajar bila tadi beliau tak ada di rumah. Dan saya cukup beralasan datang ke rumah beliau, karena memang beliau sendiri yang meminta saya mengantarkan surat pengesahan itu ke rumahnya, setelah sebelumnya kita bertemu di MP. Book Point, Cilandak. Tak ada problem untuk soal ini.
Benar, tak ada problem untuk soal tersebut. Tapi ada problem lain. Problem yang kupikir serius; menyangkut soal penghargaan kepada orang lain. Problem yang muncul dari kasus seorang security.
Tadi, waktu aku uluk salam di rumah Pak Haidar, tiba-tiba seorang dengan kaos security datang mengendarai motor. Berlagak dan bergaya tak ubahnya tentara. Dengan badan kekar, wajah bengis, dan tutur kata tak ramah—dilengkapi dengan ekspresi tak bersahabat—ia melempar beberapa pertanyaan kepadaku:
“Mau ngapain Mas?”
“Mau ketemu Pak Haidar”
“Iya, mau ngapain? Dari mana? Mau minta sumbangan?”
Dialog-dialog tak penting itu aku akhiri dengan, “Saya udah janjian ma Pak Haidar!”. Dengan nada ketus, entah dia tadi jawab apa. Saya lupa. Yang jelas, setelah itu, ia langsung pergi. Tak berselang lama, pembantu Pak Haidar keluar, dan saya pun menitipkan surat pengesahan yang kubawa. Kata beliau, “Pak Haidar ke Cinere Mal sama anak-anak, Mas”.
Ada satu kasus yang bagi saya negatif. Kasus yang dimainkan oleh Pak Security itu. Saya tidak tahu persis, apakah memang dalam dunia ke-satpam-an, untuk konteks tugas sebagai security Perumahan, seorang satpam didesain dan tampil dengan suatu laku tak ramah, raut muka tak bersahabat, dan cara bicara yang tak santun? Apakah satpam harus bersikap demikian saat bertemu “orang luar”? adakah itu memang kode etik satpam? Saya tak berani ambil jawaban, karena memang saya bukan satpam.
Terlepas dari itu, bagi saya, tak sepatutnya satpam bersikap demikian. Akan jauh lebih baik bila bertemu “orang luar”, ia hampiri dengan tutur kata yang manis, muka bersahabat, dan santun. Hal ini, di samping sudah tentu akan menimblkan image yang baik bagi tempat di mana ia kerja, tentu ia merupakan suatu pola dan laku yang dielu-elukan setiap orang. Jika satpam—sebagai mahluk sosial—ingin dihargai orang lain, ia harus berani menyiapkan dan menata diri untuk menghargai orang lain. Jika satpam—sekali lagi; sebagai mahluk sosial—tak merasa perlu dihargai, atau tak ingin dihargai orang lain, bukan berarti ia tak perlu menghargai orang lain. Ia tetap harus menghargai orang lain. Sebab, ketika ia sudah melibatkan dirinya dalam interaksi publik, ia harus siap dengan konsekwensi yang ada; yakni norma. Dalam konteks ini, paradigma “saya akan memberi jika saya diberi/untung” tak relevan dan tak layak pakai. Ia sudah usang. Ia hanya akan melahirkan siklus sesat tak bebobot dan, tentu saja, tak ilmiah.
Di sisi lain, bila hal-hal tersebut kita abaikan, atau anggap saja ia tak urgen, tetap masih ada problem lain yang perlu diperhatikan. Problem yang bagi sebagian orang—termasuk saya, cukup sensitif. Ini menyangkut perasaan orang lain. Saya sendiri, sebagai “korban” dari laku satpam—sebagaimana kisah di atas—merasa seolah diposisikan tak ubahnya pencuri atau peminta-peminta ilegal yang agak memaksa. Ini soal sensitifitas, karena itu ia sangat variatif dan bertingkat. Sikap satpam demikian, tentu akan menimbulkan persepsi dan penilaian yang berbeda bagi sebagian orang, sesuai kondisi psikologis yang sedang mengitari orang yang bersangkutan. Bagi saya, sikap dan laku macam itu hanya akan menimbulkan kebencian dan kekesalam. Memang, di sisi lain, boleh jadi ia dapat meningkatan keamanan wilayah tempat ia bertugas—jika cara demikian dapat diasumsikan memiliki pengaruh yang signifikan. Namun, bagaimana pun, menurut saya, tetap saja sikap dan laku demikian tak layak pakai. Selaiknya dihindari.
Tak Tau Diri
Kata Tak Tau Diri, secara verbal, lebih tepat diartikan sebagai ketidaktahuan akan diri sendiri, atau ketidaktahuan akan konsep diri ideal, atau tidak mengerti bagaimana cara menjadi “diri”. Ini semua hanya taksiran yang saya buat. Tetapi, terma Tak Tau Diri, dalam penggunaannya, lebih sering memunculkan konotasi kurang ajar, atau—secara lebih luasnya—tak beretika. Biarpun bila kita renungkan secara lebih dalam, tak ada permasalahan yang berarti dalam peristilahan ini.
Jika siang tadi saya dibuat kesal oleh sikap dan laku tak ramah seorang satpam, maka maghrib tadi saya dibikin kesal kedua kalinya oleh sikap dan laku seorang bapak-bapak.
Kisahnya begini; seusai shalat Magrib tadi, saya berjalan menuju ke Perumahan BDN, untuk ngambil uang di ATM, dengan suasana batin yang memang agak menyesakkan. Saya sendiri lupa dalam perjalanan tadi apa yang saya pikirkan. Alhasil, saya sampai di tempat.
Banyak orang pada ngantri di sana. Dan di antara mereka semua, posisiku adalah yang terakhir. Satu demi satu dari mereka pergi dan berlalu. Tinggal seorang ibu-ibu di dalam ruangan ATM, ditunggu suaminya di luar. Aku masih menunggu di depan pintu, ngantri. Tiba-tiba ibu itu membuka pintu, aku pun berdiri dari jongkokku. Ternyata salah. Ia Cuma memanggil suaminya, entah karena apa. Nah, tak berselang lama, seorang bapak-bapak dengan anak kecil datang dengan motor. Ia datang sesaat sebelum ibu dan bapak yang di dalam keluar. Aku masih di depan pintu, ngantri. Ibu dengan suaminya itu pun membuka pintu, tanda bahwa mereka telah selesai. Aku pun beranjak berdiri. Sebelum aku tegak berdiri, tiba-tiba bapak-bapak yang baru datang tadi, nylonong begitu saja dan masuk ke dalam ruang ATM. Sedikit pun tak mengindahkanku yang sejak tadi ngantri. Bahkan tak menoleh! Suami ibu-ibu yang sudah keluar tadi memandangiku, seolah ia juga tak menyetujui sikap dan laku bapak-bapak tak tau diri tadi. Setelah itu mereka pun pergi. Aku masih berdiri menunggu bapak-bapak tak disiplin dan tak tau diri tadi. Saat dia selesai dan keluar, justru kejengkelan dan kekesalan maha dahsyat menghampiriku! Bagaimana tidak? Lagi-lagi ia keluar dan berlalu persis saat ia masuk dan nyrobot antrianku! Tak minta maaf atau permisi, bahkan tak noleh!! Ia pergi begitu saja, seolah tak berdosa!! Ya, sedikitpun tak ada ekspresi bersalah atau yang lain. Ia berjalan “dingin” begitu saja! Aku mencoba menahan emosiku dengan mengingat-ingat soal “sabar”. Tak lain selain hanya untuk menundukkan emosiku.
Aku berjalan pulang. Aku tak habis pikir dengan ulah bapak-bapak tadi. Tiba-tiba aku ingat ulah satpam siang tadi! Genap sudah. Dalam satu hari ini, aku menjumpai dua karakter tak baik. Dua karakter yang memicu rasa kesal dan jengkel. Dua karakter yang ditampilkan oleh para pelakunya dengan ekspresi tak bersalah. Ekspresi tiada berdosa. Ekspresi “tak bermoral”.
Aku kesal. Ya, aku betul-betul kesal. Dalam kekesalan-ku, aku menyadari memang manusia itu amat misterius. Manusia itu unik. Dalam kekesalan-ku pula muncul keganjilan dalam benak. Aku pun bertanya-tanya, “Tuhan, inikah karya-Mu?!”.
Maha Suci Engkau!!
Senin, 02 Februari 2009.
01.53 am. (kamar yang kumuh!)
NOKIA dan Ideologi (2)

Pada tulisan sebelumnya, saya telah menggariskan semacam ‘postulat’ bagi alur berfikir saya. Yaitu, secara esensial manusia sebagai manusia tidak memiliki relasi dengan “citra”. Dengan kata lain, saya ingin menegaskan bahwa citra –dalam relasinya dengan manusia— bersifat aksdental (bi al-‘aradh). Saya memang tidak mengajukan banyak argumen untuk klaim saya ini, kecuali hanya sekedar yang bisa dibaca pada tulisan sebelumnya. Mengapa? Di samping melelahkan, tentunya, juga karena problem itu sudah pernah digarap oleh generasi klasik. Bagi sebagian orang, seperti saya, pengulangan itu —dalam beberapa hal— kadang membosankan dan menjenuhkan.
Argumen sederhana yang saya ajukan sebelumnya, bahwa ada interaksi dialektis (atau, dialektika interaktif ?!) antara publik yang membentuk citra, dan sikap masyarakat sebagai penerima sekaligus “pembentuk” citra, dapat kita gunakan untuk memahami sikap teman saya, yang telah telah terkontaminasi —ini kesimpulan ‘gegabah’ saya— oleh pola pikir “yah, sayang merknya LG, bukan NOKIA”.
Bagaimana membuktikan bahwa citra Nokia telah dibentuk sedemikian rupa oleh media? Jawabannya bisa kita peroleh dari pengamatan langsung realitas di sekitar kita. Paling mudahnya, bisa kita lihat, misalnya, pada koran PULSA. Pada daftar harga hp, kita dapati Nokia menempati urutan pertama. Kemudian, artikel-artikel dan tulisan yang dimuat didalamnya yang me-review hp-hp produk Nokia, turut melengkapi pembentukan citra tersebut.
Jangan disalahpahami. Saya sama sekali tidak menolak fakta bahwa hp-hp produk Nokia dalam beberapa aspeknya, menempati rating paling depan. Misalnya, jika ditilik dari kelengkapan fitur bawaan dan kemudahannya, juga tetek bengek yang lain. Bahwa prestasi-prestasi yang dimiliki Nokia melahirkan apresiasi tersendiri dari masyarakat, adalah sesuatu yang lumrah. Dan bahwa hal itu pula akhirnya membuat media-media yang ada menempatkan Nokia pada garda depan, adalah suatu hal yang rasional. Walau harus tetap ditegaskan bahwa kristalisasi popularitas yang dicapai Nokia tak lepas dari campur tangan media. Sampai titik ini, semua itu bersifat normal dan alamiah.
Dalam tulisan ini, sama sekali saya tidak memaksudkan bahwa kita dilarang mengikuti dan mengamini suatu citra, atau penerimaan terhadap citra dianggap sebagai sesuatu yang nihil. Sama sekali tidak.


